Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM-FKIP) mempersembahkan drama singkat dalam kegiatan Yudisium FKIP pada 25 Oktober 2025 di Gedung Serbaguna Universitas Kapuas Sintang.
Drama ini mengangkat isu pendidikan, khususnya tantangan pada profesi guru dalam menghadapi etika siswa. Alur ini menceritakan pada konflik antara seorang guru (Suci) dengan siswa bermasalah (Yoga) karna bertindak tidak sopan. Ketegangan memuncak saat sang guru menampar siswa tersebut, yang kemudian memicu komplain dari orang tua siswa (Hamdi) akibat laporan sepihak dari anaknya yang menyembunyikan fakta sebenarnya.
Pementasan ini didukung oleh penampilan Arifin yang berperan sebagai Kepala Sekolah, Naca, Fandi, dan Tina yang berperan sebagai siswa lainnya. Seluruh rangkaian pertunjukan ini merupakan hasil kerja keras para penampil yang telah menjalani persiapan dan latihan intensif di bawah binaan langsung BEM FKIP. Melalui drama ini, penonton diajak merefleksikan kompleksitas hubungan antara guru, siswa, dan orang tua di era sekarang.
Pada akhir penampilan, Suci yang berperan sebagai tokoh guru menyampaikan pesan mendalam terkait makna di balik drama tersebut. Ia menegaskan bahwa menjadi seorang pendidik adalah tugas mulia meski sering kali harus menghadapi situasi sulit dan dilematis di lapangan. Melalui pesan tersebut, ia juga mengingatkan para siswa akan pentingnya menjaga etika serta rasa hormat terhadap guru sebagai pilar utama dalam dunia pendidikan.
Penampilan ini disambut dengan antusiasme tinggi dari para penonton, termasuk jajaran dosen serta 17 peserta yudisium angkatan 2021. Apresiasi diberikan dengan penuh rasa haru dan bangga atas keberanian BEM FKIP dalam mengangkat isu yang sangat relevan bagi calon pendidik. Suasana gedung pun dipenuhi suasana emosional yang menyatukan seluruh hadirin dalam refleksi bersama.
Dalam arahannya, Rachmi Afriani, S.Si., M.Si. selaku Dekan FKIP menekankan bahwa profesionalitas merupakan kunci utama dalam kinerja seorang tenaga pendidik. Integritas dan dedikasi dalam mengajar harus menjadi landasan bagi setiap lulusan yang akan terjun ke dunia pendidikan.
Selain itu, beliau senantiasa mengingatkan untuk selalu menghargai profesi guru. Hal ini dikarenakan peran guru bukan sekadar pengajar, melainkan sosok sentral dalam membentuk masa depan dan peradaban pendidikan bangsa.
Kontributor : Cynthia D. Marpaung

